Tag Archives: surabaya

images

Menjamurnya Hotel

Belakang Hotel adalah sebuah judul film dokumenter yang menampilkan perjuangan sekelompok masyarakat di Yogyakarta memprotes pembangunan hotel yang menjamur tak terkendali. Hotel-hotel yang umumnya membuat sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya itu ditenggarai mematikan sumber-sumber air atau sumur yang merupakan sumber air bersih bagi warga di sekitarnya. Dalam dokumenter itu ditampilkan sebuah teaterikal protes, dimana seorang seniman memandikan dirinya dengan debu untuk mengambarkan betapa sumur-sumur mereka telah kering.

Lain Yogya lain pula Samarinda yang dalam satu atau dua tahun terakhir ini ditumbuhi banyak hotel. Tak ada yang protes soal air akibat maraknya pembangunan hotel karena penduduk Samarinda barangkali sudah biasa disusahkan oleh urusan air. Kehadiran hotel-hotel justru disambut meriah sebagai pertanda banyaknya investasi masuk di kota ini. Kalaupun ada sedikit ribut-ribut soal hotel hanyalah soal limbah, lokasi yang dekat dengan sekolah dan rumah ibadah.

Sebagai orang awam yang tak tahu perkembangan wisata dan aneka event lainnya serta tak cukup punya data jumlah orang keluar masuk Samarinda, saya agak heran kenapa pengusaha seolah berlomba membangun hotel di Kota Samarinda. Pertanyaannya saya hotel-hotel itu dibangun untuk apa?. Siapa yang akan menginap atau memakai ruang-ruang pertemuan di hotel-hotel itu?.

Apakah benar ada hasil penelitian atau proyeksi yang valid soal Samarinda 5 atau 10 tahun ke depan, yang mungkin akan bertumbuh menjadi metropolitan sehingga butuh banyak kamar untuk menampung orang yang datang berbisnis atau mengadakan pertemuan di kota ini?.

Ambil contoh lain saja, misalnya pusat perbelanjaan. Para penasehat investasi barangkali menganjurkan pembangunan mall-mall besar berdasarkan data “Mall Intercept” atau wawancara konsumen di Mall Mall besar yang ada di Jakarta atau Surabaya. Data itu mungkin mengatakan bahwa banyak pengunjung yang belanjanya ‘gila-gilaan’ menyebut diri berasal dari Kota Samarinda. Sehingga disimpulkan bahwa warga Samarinda adalah konsumen potensial untuk membeli barang-barang branded dari tenant-tenant raksasa.

Mallpun menjamur dan beberapa diintegrasikan dengan hotel. Dan apakah tingkat hunian hotel dan mall mencapai apa yang diharapkan?. Entahlah, karena tak ada data yang pasti soal ini. Hanya saja di hari-hari biasa dengan mudah dilihat bahwa penjaga hotel dan pegawai di mall melamun atau asyik ngerumpi sendiri diantara mereka.

Pertanyaannya adalah pertumbuhan Mall dan Hotel-Hotel itu ditujukan untuk siapa?. Kalau orang Samarinda ketika di Jakarta, Surabaya atau Bandung menghabiskan waktunya di Mall-Mall tentu saja itu biasa setelah tak tahu mau apa dan kemana lagi. Tapi ketika berada di Samarinda, kotanya sendiri tentu saja Mall bukan pilihan utama. Saya punya banyak teman yang selalu nonton film pada bioskop ternama di Jakarta tapi ternyata belum pernah sekalipun menonton film yang diputar pada bioskop di Kota Samarinda.

Lalu benar sesekali ada event yang diselenggarakan di Kota Samarinda dan membuat kamar-kamar hotel penuh atau bahkan cenderung kurang. Namun event semacam itu tidak selalu terjadi sebulan sekali. Dan kalaupun kemudian banyak acara diselenggarakan di hotel, umumnya peserta juga tidak menginap. Acara hanya menyewa ruang dan fasilitas lainnya namun bukan kamar.

Namun sekali lagi ini hanya duga-duga saya saja, sebab meski beberapa hotel kelihatannya sepi namun belum ada tanda-tanda kebangkrutan dari hotel yang berdiri di pelbagai penjuru kota ini. Namun dari amatan sekilas, mulai nampak adanya hotel-hotel yang tamunya tak lagi menginap semalaman, melainkan hanya jam-jam-an.

@yustinus_esha