Tag Archives: teh

foto by Phantom Priyandoko

Ngeteh Yuk

Segelas teh disodorkan ke saya, nampak daun-daun teh mengambang di permukaan gelas. Harum melati tercium kental bersama uap panas yang mengepul dari gelas. Aroma yang tidak asing itu kemudian mengantar pada ingatan beberapa puluh tahun lalu.

Ya dibanding dengan kopi, teh sebenarnya lebih akrab dengan kehidupan saya di masa kecil dulu. Teh adalah minuman sehari-hari. Kalau sekarang saya lebih banyak minum air putih, dulu air putihnya adalah teh tawar.

Seingat saya, di rumah nenek kala saya berlibur ke sana, ada kebiasaan untuk ‘medang’, minum teh di sore hari sambil ditemani pangganan. Teh diseduh dalam teko porselin dan kemudian diberi tudung agar panasnya terjaga. Selain pangganan di piring kecil selalu tersedia butiran gula batu atau gula aren untuk pemanis. Gula bisa dimasukkan dalam cangkir tetapi terkadang langsung dikulum di mulut.

Sesekali saya juga ikut medang di warung. Dulu, agar dapat uang jajan, saya sering ikut jadi kernet colt, angkutan umum milik tetangga. Nah, biasanya seusai narik, mobil akan dicuci di salah satu kali yang mengalir di ujung desa. Setelah berbasah-basah membersihkan mobil, tetangga saya selalu mengajak mampir ke warung tak jauh dari pinggir jembatan sungai tempat mobil biasa dicuci. Di warung itu satu ceret teh hangat dan gorengan telah menunggu. Dan badan yang menggigil karena dingin air sungai perlahan menghilang seiring dengan tegukan air teh melewati tenggorokan.

Dan kemarin (Senin, 10 Agustus 2015) untuk pertama kali setelah kurang lebih 12 tahun tinggal di Kota Samarinda saya dengan sengaja medang atas undangan om @fnr4567 di kediamannya yang kerap kami juluki “cafe bawah pohon mangga”. Om @fnr4567 dan crew-nya mungkin sudah sebulanan meng-otak-atik teh untuk menemukan racikan yang tepat agar seduhannya ‘enak masuk’ di tenggorokan dan aroma uapnya tetap terjaga.

Di meja berjejer aneka bungkus teh. Beberapa saya kenali seperti teh gopek, teh catur, tong tji dan satria. Beberapa merk lainnya membuat saya tersenyum seperti teh dandang, 999, nyapu dan rolas. Selain teh lokal dari Malang, Solo, Slawi, Pati, Banyuwangi, Banjar, Bandung ada juga teh import buatan Inggris.

Satu per satu teh mulai diseduh. Setiap seduhan membawa rasa yang berbeda, ada yang membawa rasa floral, buah dan juga mint. Tampilan masing-masing seduhan juga berbeda, coklat tua, coklat bening dan kehijauan hingga white tea yang seduhannya tetap bening.

Dibanding dengan kopi, sejarah teh baik sebagai minuman maupun obat sebenarnya lebih panjang. Dan mungkin karena itu dianggap sudah biasa sehingga tidak menantang kita untuk mengekplorasinya. Padahal kekayaan rasa dan fungsi teh lebih kaya. Sebab yang disebut teh tidak selalu berasal dari daun atau tangkai pohon teh. Di Sumatera Barat misalnya dikenal Kahwa Daun, yang adalah teh hasil seduhan dari daun kopi yang dikeringkan.

Beberapa tahun lalu kita juga mengenal Teh Mahkota Dewa, yang berasal dari jemuran daun maupun irisan daging buah Mahkota Dewa. Daftar ini bisa diperpanjang termasuk Teh Gingseng, Daun Jati Belanda, Lamtoro atau Petai Cina, Benalu dan lain sebagainya. Di Kalimantan Timur sendiri muncul Teh Tahongai atau Katimangar. Teh ini berasal dari pohon yang banyak tumbuh dan terbiar di tepian sungai.

Kebudayaan minum teh dengan segala ritualnya atau minum rumit mungkin kita kenal hanya dalam film-film atau kisah di Jepang. Di masyarakat kita seperti halnya kopi, teh diseduh dengan cara sederhana yaitu tubruk atau celup. Namun untuk menghasilkan seduhan teh yang baik sebenarnya perlu tata cara tersendiri. Main tubruk atau menyiram air panas yang masih mendidih atau suhu lebih dari 90 derajad celcius akan menghasilkan seduhan dengan rasa terbakar, burn atau gosong.

Hasil otak-atik om @fnr4567 menunjukkan bahwa teh pun bisa diracik ala kopi. Jika dalam kopi kita mengenal jenis sajian berbasis espresso. Maka dalam teh dikenal juga teh dasar, atau seduhan teh utama yang kemudian untuk menampilkan karakter tertentu ditambah dengan seduhan teh jenis lainnya dalam komposisi tertentu. Kalau di bar yang menyajikan minuman beralkohol, penyaji atau peracik minumannya akan disebut bartender, di coffee shop disebut barista, nah untuk peracik teh entah disebut apa.

Dari icip-icip teh ini, saya berharap “Cafe Bawah Pohon Mangga” akan tumbuh menjadi Tea House yang sesungguhnya, menjadi ruang untuk warga Samarinda menikmati teh yang menenangkan jiwa dan menyehatkan raga. Dengan demikian dunia makan dan minum Samarinda akan semakin kaya dan menyajikan banyak pilihan yang berbeda.

@yustinus_esha