Tag Archives: teman ahok

Karangmumus5

Dari Teman Ahok ke Sahabat Karang Mumus

Dukung mendukung atas sebuah langkah politik adalah soal biasa. Dahulu di jaman orde baru sering diadakan apel siaga, pernyataan sikap dan lain-lain yang meminta atau mendukung Suharto untuk kembali menduduki kursi jabatan presiden.

Sekarang ini kelompok pendukung lebih sering menamakan dirinya sebagai Kawan, Sahabat, Teman dan lain sebagainya. Di Kalimantan Timur misalnya kita mengenal ada Kawan Rita atau Sahabat Dona. Sayangnya soal apa yang mereka kerjakan, bagaimana mereka membiayai aktivitasnya waktu itu atau jika masih bertahan sampai sekarang, kita tidak terlalu tahu.

Yang menarik dan menyita perhatian saat ini adalah Teman Ahok. Kelompok pendukung Ahok untuk mencalonkan dirinya menjadi Gubernur DKI ini, kini menjadi mesin politik utama dari Basuki Tjahaja Purnama setelah dia memutuskan untuk maju ke DKI I lewat jalur independen.

Awalnya memang ada yang memberi modal ke kelompok relawan ini, yang kemudian mengembangkan modal itu dengan cara kreatif guna memperoleh dana untuk membiayai aktivitas mereka dalam mengumpulkan KTP dukungan untuk Ahok agar bisa mulus mendaftarkan dirinya sebagai calon gubernur lewat jalur independen.

Sebetulnya kelompok dukungan seperti ini tidak hanya lazim dalam dunia politik melainkan juga dunia-dunia lainnya seperti sosial, kebudayaan, lingkungan hidup dan lain-lainnya. Hanya sering kali kelompok dukungan itu diinisiasi oleh lingkaran dalam. Ambil contoh saja misalnya dalam bidang lingkungan hidup Greenpeace, WWF atau Walhi yang juga membentuk kelompok dukungan.

Tentu saja tidak salah, namun akan lebih baik jika sebuah kelompok dukungan justru muncul dari lingkaran luar, orang atau kelompok yang secara sukarela mencarikan atau mengelola dukungan untuk sebuah gerakan, langkah atau program-program sosial.

Nah, di Samarinda sekarang ini ada Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM yang dimotori oleh Misman dan Iyau Tupang. Gerakan ini cukup menghentak Kota Samarinda dan menarik banyak kelompok untuk berpartisipasi dalam gerakan ini. Simpati dan dukungan pada gerakan ini perlu diperbesar dan terus dipertahankan agar berkelanjutan. Dan disinilah perlu kelompok relawan yang mungkin bisa dinamakan sebagai Sahabat Karang Mumus.

Dalam bayangan saya, Sahabat Karang Mumus adalah wadah para relawan dengan berbagai latar belakang yang berbeda namun mempunyai keprihatinan dan kepedulian yang sama terhadap kondisi Sungai Karang Mumus. Dan dengan keahlian atau latar belakang masing-masing, mereka memanfaatkannya untuk menggali dukungan atau memobilisasi sumberdaya untuk menopang Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM.

Kehadiran kelompok dukungan ini penting karena selama ini Misman dan Iyau Tupang benar-benar berjibaku untuk membesarkan gerakan ini. Keduanya hampir-hampir tak mempunyai waktu untuk mengurusi kepentingannya sendiri, termasuk yang terkait dengan tanggungjawab yang diemban di luar kegiatan memungut sampah di Sungai Karang Mumus.

Dengan munculnya kelompok dukungan yang membantu Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM, diharapkan Misman dan Iyau Tupang bisa berkonsentrasi pada upaya mendidik warga Kota Samarinda agar tak membuang sampah ke sungai dan tidak disibukkan atau dibuat kalang kabut untuk mengurusi hal-hal lainnya.

Lalu apa tugas atau mandat yang bisa diberikan kepada Sahabat Karang Mumus?. Kelompok dukungan yang disebut sebagai Sahabat Karang Mumus bertugas untuk melihat apa yang dibutuhkan oleh Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM dan kemudian mencari, menggalang dan memobilisasi dukungan untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh gerakan.

Lalu apa yang dibutuhkan oleh Gerakan Memungut Sehelai Sampah SKM?. Secara rutin gerakan ini membutuhkan alat bantu untuk memungut sampah, seperti masker, sarung tangan dan kantong plastik untuk mengemas sampah yang dipungut. Selain itu juga dibutuhkan dana operasional misalnya untuk membeli bahan bakar mesin perahu, perawatan perahu dan isentif untuk Sugianto yang bertugas mengangkut sampah yang dipungut ke TPS. Pengalangan dana ini bisa dilakukan dengan cara membuka dompet sumbangan, atau Sahabat Karang Mumus bisa memproduksi material kampanye dalam bentuk T-Shirt, Topi, Tas, Tumbler dan lain-lain yang ‘dijual’ dengan harga sumbangan.

Gerakan ini juga membutuhkan mobilisasi sumberdaya untuk memungut sampah. Perlu relawan-relawan yang bisa mendedikasikan tenaga dan waktu untuk memungut sampah di SKM secara konsisten atau terjadwal sehingga setiap hari selalu ada aktivitas memungut sampah. Dalam hal ini termasuk sumberdaya untuk membawa atau mengoperasikan perahu agar tak tergantung kepada satu atau dua orang tertentu.

Untuk memperluas jangkauan pendidikan dan penglibatan masyarakat serta mempengaruhi kebijakan, gerakan ini membutuhkan dokumentator dan campaigner. Bahan-bahan yang dikumpulkan oleh dokumentator dalam berbagai bentuk kemudian dikemas sebagai sebuah paket informasi untuk disebarluaskan baik ke masyarakat maupun pengambil kebijakan.

Ke depan gerakan ini perlu dikembangkan terus agar punya dampak meluas, bukan hanya sungai yang bersih melainkan Samarinda yang bersih. Akan dibutuhkan banyak pendidik kelompok sebaya yang tidak hanya menjangkau masyarakat lewat aksi bersih-bersih secara langsung atau juga sosial media melainkan melalui penjangkauan masyarakat secara tatap muka. Salah satu hal yang paling penting diajarkan kepada masyarakat adalah mengurangi volume sampah sejak dari rumah dengan memanfaatkan teknologi pengolahan sampah yang sederhana dan tepat guna.

Begitulah gambaran dari beberapa hal yang bisa dilakukan oleh Sahabat Karang Mumus. Lalu apakah yang disebut sebagai Sahabat Karang Mumus harus selalu berkumpul atau beraktifitas dengan tatap muka?.

Sebenarnya tidak selalu demikian. Dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Sahabat Karang Mumus bisa dikelola atau dijalankan dengan berbasis pada website atau blog. Sehingga langkah pertama untuk mewujudkan gagasan Sahabat Karang Mumus adalah kelompok relawan yang mampu mengembangkan sebuah website atau blog untuk mewadahi kebutuhan atau aktifitas yang akan dijalankan oleh Sahabat Karang Mumus.

Semoga ada yang berkenan mewujudkan hal ini.

@yustinus_esha