Tag Archives: Tinja

14067662_10210537830062408_1289779888105070598_n

Banyak ATM di Karang Mumus

Ini gurauan seorang teman ketika kehabisan uang saat berada di tepi sungai. Seseorang kemudian menunjuk ke arah sungai sambil mengatakan “itu disana banyak ATM”.

Teman itu terbengong belum tahu apa yang dimaksud, dia hanya melihat deretan jamban di sepanjang sungai.

Yang menyebut ATM kemudian tertawa dan mengatakan kalau jamban itu ATM yang kepanjangannya adalah Anjungan Tinja Mandiri.

Deretan ATM di Sungai bukan cerita masa lalu juga bukan cerita di permukiman yang ada di pedalaman. ATM bahkan masih mudah ditemukan di sepanjang sungai yang ada di perkotaan.

Jika tak percaya, silahkan luangkan waktu untuk menyusuri Sungai Karang Mumus mulai dari jembatan Kehewanan ke arah Waduk Benanga. Dan kita akan dengan mudah menemukan deretan ATM di sepanjang aliran sungainya.

Perda Kota Samarinda nomor 02 tahun 2011 tentang pengelolaan sampah pada bagian Ketiga tentang Larangan Pasal 38 dinyatakan : setiap orang atau pemilik bangunan dilarang …… Dalam ayat 6. Buang air besar (hajat besar) dan buang air kecil (hajat kecil) di jalan, jalur hijau, Yaman, sungai, saluran dan tempat umum.

Dan ATM adalah bukti telanjang setelanjang bocah bocah yang sering berceburan di Sungai Karang Mumus dan kemudian berteriak “lele kuning-lele kuning” ketika ada tinja mengambang hampir tersundul kepalanya.

Setelah peringatan kemerdekaan RI ke 71 nampak ada geliat dari Pemerintah Kota Samarinda untuk memberi perhatian kepada Sungai Karang Mumus secara lebih komprehensif dan holistik.

Semoga ATM di Sungai Karang Mumus menjadi salah satu perhatian. Ini bukan semata soal kesehatan lingkungan dan permukiman tapi juga soal kelayakan peradaban dan kecerdasan. Adab apa yang sedang berkembang di Kota Ini jika sebagian warganya masih buang air besar dengan membuang langsung ke sungai. Dan apakah Kota Ini kayak dianggap sebagai Kota Cerdas jika dalam prakteknya tinja dibiarkan mengambang di atas permukaan sungainya.

Ingat Kota Cerdas bukankah semata kota yang punya infrastruktur IT yang mumpuni dengan berbagai macam aplikasinya. Kita dianggap Cerdas apabila Pemimpin, birokrat, wakil rakyat dan warganya adalah orang Cerdas. Cerdas karena menghormati, menjaga dan merawat sungai. Sebab sungai adalah kehidupan karena air yang mengalir didalamnya dan segala macam biota yang berada baik di dalam air maupun lingkungan sekitar sungai.

Dan sekarang pantaskah kita terus mencitrakan Kota Samarinda sebagai Kota Cerdas apabila sikap dan perilaku juga kebijakan kita yang masih saja menista Sungai Karang Mumus?