Tag Archives: trotoar

Jalanan Rusak - Jl. Sultan Sulaiman Sambutan - Foto Asfianur

Jalan Kaki? Nggak Ah

“Sorry terlambat, terjebak macet pas jalan kesini,”

Permintaan maaf dengan alasan macet, kini makin sering akrab dengan telinga warga Samarinda saat hadir dalam pertemuan atau kumpul-kumpul dengan teman serta sahabat. Kenapa kemacetan di Samarinda cenderung semakin parah dari waktu ke waktu?.

Ada banyak penyebab kemacetan di tinjau dari berbagai sudut pandang. Pertama, adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan (sepeda motor dan mobil) dan jalan. Kendaraan bertumbuh berlipat-lipat kali dari pada jalanan, karena kemudahan untuk membelinya dengan cara kredit. Walau kredit kendaraan dalam dua tahun belakangan ini mulai melemah, namun jumlah kendaraan yang lebih laku daripada pisang goreng pada beberapa tahun sebelumnya sudah terlanjur banyak.

Selain tidak bertambah jumlahnya, kondisi jalan kebanyakan juga tidak lagi memenuhi syarat dari sisi lebarnya. Jalan yang dulunya adalah gang, jalan kampung atau jalan penghubung, kini banyak yang menjadi jalan utama. Sedikit hambatan pada arus lalulintas di jalan semacam ini akan membuat kemacetan panjang.

Kedua, adalah perilaku para pengendara atau pemilik kendaraan. Ada banyak orang membeli mobil atau kendaraan roda empat tapi tak punya garasi untuk menyimpan kendaraannya. Dan jalanan yang sudah sempit menjadi tempat untuk memarkir kendaraannya. Di pagi hari, ketika arus lalulintas mulai ramai dan kendaraan lambat dipindahkan, maka macetlah.

Kebiasaan lain para pemakai kendaraan yang berujung pada kemacetan adalah sifat tak mau mengalah, engan menginjak rem di perempatan jalan. Dan perempatan tanpa lampu lalulintas terkunci, kendaraan tidak bisa maju dan tak bisa mundur. Munculnya ‘Pak Ogah’ di perempatan jalan, juga tak selalu ampuh untuk menjaga kelancaran lalulintas.

Ketiga, adalah perilaku kebijakan. Menjadi jelas bahwa pertumbuhan titik-titik macet menunjukkan para pengambil kebijakan dalam perencanaan pembangunan dan antisipasi perkembangan tidak mengintegrasikan perencanaan infrastruktur berdasarkan perkembangan dan kecenderungan mobilitas masyarakatnya.

Keempat, adalah marjinalisasi pejalan kaki. Kebiasaan jalan kaki tidak dipelihara baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Jalan kaki hanya dijadikan seremoni, semacam lomba jalan sehat, pawai atau karnaval belaka, bukan kebiasaan untuk aktivitas sehari-hari.

Adab Jalan Kaki

Peradaban dibangun dengan jalan kaki, gerak manusia dari satu tempat lain, berinteraksi, berdagang dan sebagainya pada mulanya dilakukan dengan jalan kaki. Dulu pejalan kaki disebut sebagai pengelana, melangkahkan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Para pengelana dihormati karena mobilitasnya melintasi ruang dan waktu meninggalkan titik-titik dan catatan sejarah dalam berbagai bidang.

Salah satu bukti dari penghormatan terhadap pejalan kaki, adalah adanya pedestrian atau jalur untuk para pejalan kaki. Berbagai kota besar dengan peradaban tinggi mempunyai arkade, lorong panjang yang teduh sehingga para pejalan kaki bisa melangkahkan kakinya dengan nyaman. Yang disebut dengan pedestrian bukan sekedar untuk berjalan kaki, melainkan ruang publik bagi masyarakat untuk berinteraksi, jalan kaki adalah ruang sosial. Dengan berjalan kaki, seseorang masih punya kesempatan untuk menyapa, tersenyum atau bertatap muka dengan pejalan kaki lainnya.

Bagaimana wajah pedestrian di Kota Samarinda. Pedestrian di Kota Samarinda bisa diterjemahkan sebagai trotoar. Sejauh mana trotoar di Kota Samarinda punya konektivitas dengan niat warga untuk berjalan kaki?.

Terkait dengan moda mobilitas, pejalan kaki di Kota Samarinda termasuk minoritas. Jumlahnya tidaklah banyak, entah karena kebanyakan orang enggan berjalan kaki, menganggap jalan kaki hanya sebagai olah raga atau karena niat berjalan kaki telah ‘dibunuh’.

Niat berjalan kaki ‘dibunuh’ atau hak pejalan kaki dirampas, karena dalam pengembangan dan kebijakan pembangunan kota, pejalan kaki sama sekali tidak dimasukkan sebagai stakeholder yang dipertimbangkan dalam perencanaan pengembangan dan pembangunan kota. Kita bisa dengan jelas menyaksikan bahwa ruang pedestrian, semakin hari semakin menyempit. Trotoar bukan hanya dirampas oleh pedagang kaki lima, tetapi juga pot permanen, tiang rambu-rambu, Tempat Pembuangan Sampah Sementara (Bak Sampah), tempat parkir motor/mobil dan tempat melintas motor jika jalanan macet.

Satu lagi kekonyolan yang nampak di depan mata adalah trotoar yang cukup lebar di ruas jalan Basuki Rahmat, tempat berbagai perkantoran pemerintah dan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota Samarinda berada, dimana trotoarnya justru ditanami tiang-tiang besi. Niatnya adalah untuk mencegah agar trotoar tidak dijadikan tempat parkir mobil, tetapi cara mengusir mobil agar tak bisa parkir di trotoar membuat pejalan kaki mesti waspada melewatinya agar tidak terantuk tiang besi. Dan bisa dipastikan mereka yang memakai kursi roda atau mendorong kereta bayi akan sulit untuk melewatinya.

Jika kita bicara soal kemacetan Kota Samarinda, maka jalan penyelesaian dengan berharap ada penambahan dan perluasan jalan, nampaknya akan sulit. Secara keuangan, Kota Samarinda tidak akan mampu membangun jalan-jalan baru. Pun demikian dengan mengharap adanya moda transportasi publik yang aman dan nyaman. Maka menumbuhkan pejalan kaki justru bisa menjadi salah satu alternatif mengurai kemacetan. Namun pejalan kaki akan bisa tumbuh jika hak-haknya dihormati dan kawasan pedestrian direvitalisasi, sehingga pejalan kaki bisa melangkahkan kaki dengan aman dan nyaman dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dan tentu saja tidak akan ada orang yang sudi berjalan kaki apabila terancam diserempet mobil atau motor, atau tercebur di saluran air karena trotoar yang dibangun diatas saluran air, penutupnya hilang disana sini.

@yustinus_esha

Jalanan Cermin Budaya Kita

Pengendara Zig Zag menghindari Lubang - Foto Asfianur

“Sampai bulan Desember polisi dan petugas dinas perhubungan akan mengadakan operasi lalu lintas,” begitu disampaikan oleh seorang teman yang sempat kena tilang gara-gara surat kendaraannya tidak lengkap. Operasi tertib lalu lintas ini memang penting. Sebab kondisi lalu lintas Kota Samarinda … read more