Tag Archives: wechat

Foto : google.co.id

Facebook Makin Menua, Twitter Makin Membosankan

Awal tahun ini saya menerima permintaan pertemanan di facebook dari dua orang oma-oma. Tentu saja permintaan itu saya langsung terima tanpa pikir panjang. Namun setelah itu saya kerap kebingungan bagaimana harus berkomunikasi dengan mereka. Namun sesekali saya men-tag mereka jika ada foto keluarga yang saya upload di halaman facebook.

Beberapa tahun lalu mereka yang berumur diatas 50 tahun jarang sekali mau membuat account facebook. Mereka bilang bahwa diri mereka ‘gaptek’. Ini dikarenakan media sosial waktu itu lazimnya dimainkan di PC atau Netbook dan umumnya diakses di warnet atau di free wifi area.

Perkembangan mobile internet melalui smartphone membuat media sosial menjadi lebih familiar, lebih mudah dioperasikan. Dan inilah yang kemudian mendorong mereka yang awalnya merasa ‘gaptek’ kemudian mencoba-coba untuk memakai sosial media, utamanya facebook yang ternyata memberi pengalaman yang mengasyikkan.

“Saya ketemu teman SD …. yang sudah 50 tahun lebih tak saling berkabar. Dia sekarang ada di Belanda,” ujar salah satu Oma berseri-seri.

Dan kini Oma ini menjadi sangat aktif di facebook. Selain menjadi ajang untuk bersilaturahmi keasyikan bermain facebook bisa menjadi pengisi waktunya. Setelah sebelumnya waktu hanya dihabiskan untuk menonton televisi yang tentu saja lama kelamaan akan membosankan karena hanya berkomunikasi satu arah.

Penetrasi orang berumur ke facebook rupanya membuat anak-anak muda pemakainya menjadi terganggu. Facebook tidak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk eksis. Mereka menjadi canggung karena di facebook ada tante, om, oma dan opa mereka.

Anak-anak muda memang tidak meninggalkan facebook, namun mengurangi tingkat keaktifannya. Account facebook tetap dipertahankan hanya saja tidak lagi menjadi pilihan pertama untuk berinteraksi dengan jejaring atau peer groupnya.

Sementara itu twitter yang popular di Indonesia karena endorse dari para pesohor dan media mainstream juga mengalami hal sama. Twitter jaya karena dipakai oleh para artis dan menjadi second window bagi media untuk membagikan running news atau news update serta berinteraksi dengan konsumen beritanya.

Popularitas twitter di Indonesia semakin menanjak tatkala diskursus politik menjelang pemilihan umum dilakukan lewat twitseries dan twitwar. Namun lama kelamaan yang berkembang adalah politicking atau perbincangan politik yang penuh dengan serangan kepada pihak lain, fitnah dan penyebaran kabar-kabur.

Linimasa yang kemudian banyak dipenuhi dengan purba sangka, kebencian dan bahkan kata-kata kotor kemudian membosankan atau bahkan memusingkan bagi banyak pemakainya. Dan twitter dengan kicauan-kicauan yang tadinya menjadi pemicu perbincangan di masyarakat kemudian juga pelan-pelan ditinggalkan oleh anak muda. Seperti halnya facebook, account twitter masih dipertahankan tetapi jumlah tweetnya tidak bertambah.

Kehadiran Path, Instagram dan aneka messanger seperti Line, WeChat dan WhatApp menyajikan pilihan bagi anak-anak muda untuk bermedia sosial. Instagram kemudian menjadi pilihan untuk eksis karena tak banyak embel-embel. Sementara pesan atau komunikasi antar pribadi dan peer group lebih dilakukan melalui applikasi messanger.

Apakah ini berarti masa depan facebook dan twitter sebagai medium komunikasi dan informasi terancam?. Apakah facebook dan twitter tak lagi efektif untuk dipakai sebagai saluran penyebar informasi dan pengetahuan?. Sebenarnya tidak. Facebook dan twitter masih tetap bisa dimanfaatkan secara bermakna apabila pemakainya melakukan pengelolaan isi dengan baik. Jadi persoalan bukan pada facebook atau twitter melainkan pada pemakainya.

@yustinus_esha